| Dwi Anugrah Mugia Utama | Bobotoh | Mountaineering | Vegetarian | Working Class | Partikel Bebas |

Rabu, September 21, 2011

Gunung Rinjani Lombok


Rinjani, sebuah gunung yang berada di pulau Lombok, yang luasnya mencakup 3 kabupaten sekaligus yakni Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok tengah dan Kabupaten Lombok Timur. Rinjani sendiri merupakan salah satu gunung yang menjadi impian untuk didaki oleh hampir seluruh para pecinta alam di Negeri ini, tidak terkecuali saya sendiri tentunya. Bagaimana tidak hampir seluruh orang yang pernah berkunjung kesana pun berkata, bahwa Rinjani merupakan salah satu gunung terindah yang ada di Indonesia bahkan mungkin dunia, hal itu dipertegas dengan pernyataan mereka yang ingin kembali lagi kesana. Maka jangan heran Rinjani selalu dipenuhi para pendaki setiap tahun nya, baik itu para pendaki lokal maupun mancanegara. Menurut catatan pengelola Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), kawasan ini rata-rata dikunjungi 46.000 orang per tahun nya. Namun sayangnya hal tersebut pun tidak diimbangi dengan kebersihan kawasan TNGR ini sendiri, karena Gunung Rinjani tidak berbeda jauh dengan taman nasional lainnya yang ada di Negeri ini, tidak pernah lepas dari masalah sampah sampah dan sampah. 
Dikalangan para pendaki gunung Rinjani mempunyai tittle sebagai gunung tercantik di Negeri ini, berdampingan dengan gunung Semeru yang yang mempunyai gunung tampan. Jika diibaratkan manusia Semeru merupakan seorang Raja yang berpenampilan gagah, perkasa namun terkesan sedikit angkuh. Sedangkan Rinjani diibaratkan seorang Ratu yang berpenampilan cantik, ayu dan sangat anggun. Maka jangan heran nama puncak keduanya pun nyaris sama, yakni Mahameru dan Mahabiru.  Sebenarnya kecantikan gunung Rinjani sendiri masih berhubungan erat dengan cerita sejarah suku Sasak yang telah turun temurun. Puncak gunung Rinjani bersumber dari cerita legenda Dewi Anjani. Dari nama wanita itulah Rinjani ada. Bahkan konon ia dianggap sebagai penghuni kawasan puncak Rinjani. Ia digambarkan sangat cantik yang terkadang mau menampakan drinya pada orang-orang tertentu disekitaran plawangan dan puncak. Namun sampai saat ini belum ada satu pun litelatur yang membandingkan kecantikan Dewi Anjani dan Nyi Roro Kidul, tapi nampaknya saya pribadi sangat tidak tertarik untuk membandingkan kecantikan keduanya secara langsung (sieun oge mereun bray...), karena bagi saya cukup melihat kecantikan Agnes Monica saja, karena bagaimana pun juga menurut saya itu yang paling mentok untuk ukuran kecantikan wanita di Negeri ini. Sekali Agnes Monica! Tetap Agnes Monica! Hidup Agnes Monica! 



Kamis, 1 September 2011

Sebenarnya hari ini merupakan hari kedua Idul Fitri, namun karena perubahan Idul Fitri yang mundur satu hari sedangkan jadwal keberangkatan yang tidak bisa berubah. Maka mau tidak mau saya pun harus mengorbankan ber lebaran berkumpul bersama keluarga besar di hari nan Fitri. Pukul 06.00 WIB saya sudah berangkat dari bilangan daerah Cilangkap Kabupaten Bogor diantar salah seorang saudara menggunakan sepedah motor menuju tempat meeting point keberangkatan di salah satu sudut Stadion kebangaan masyarakat Indonesia, Gelora Bung Karno. Kurang lebih sekitar 90 menit motor yang saya tumpangi membelah jalanan ibukota yang nyaris sangat lengang, karena ditinggal para penghuni nya yang melakukan ritual tahunan mudik menuju kampong halaman nya. Kondisi ini jauh berbeda 180 derajat dengan kondisi jalanan ibukota di pagi hari jika dalam keadaan normal, macet merupakan santapan wajib para penghuni ibukota setiap harinya. Oh ya hamper saja lupa, sebenarnya petualangan saya kali ini menuju Puncak Rinjani menggunakan sebuah jasa tour and travel, maka jangan pernah menanyakan rincian ongkos yang saya keluarkan ya. Karena kali ini saya layaknya anak sekolahan yang sedang menjalani sebuah perjalanan study tour, tapi bedanya bukan perjalanan menuju Museum atau Dunia Fantasi, tapi sebuah perjalanan menuju gunung tertinggi di Pulau Nusa Tenggara, Gunung Rinjani 3726 MDPL. Setelah menyelesaikan proses registrasi ulang pada pihak panitia, pembagia tshirt dan sedikit photo session, pukul 08.15 WIB bus yang akan membelah 3 pulau secara langsung ini pun lambat laun mulai meninggalkan kawasan Senayan.

Jam-jam pertama dalam perjalanan saya isi dengan berbincang-bincang dengan beberapa rekan saja, karena memang dalam satu bus ini yang saya kenal sebelum melakukan perjalanan hanya sekitar 6 orang saja, itu pun memang kami semua sudah dalam satu perkumpulan millist di dunia maia yakni Komunitas Pecinta Alam Warna Warni. Namun secara perlahan kebekuan diantara yang lainnya pun mulai mencair, sehingga lambat laun mulai berkenalan dan sedikit berbincang-bincang dengan peserta yang lainnya. Sebenarnya ada yang sedikit unik dan membuat lucu para penghuni bus dalam perjalanan kali ini, karena dalam satu rombongan ini ada 3 orang yang mempunyai nama berakhiran Udin, Solahudin, Saprudin dan Djalaludin. Bahkan rekan saya Ray selalu tertawa terbahak-bahak setiap salah seorang panitia membacakan absen. Dan entah disengaja atau tidak oleh para panitia, trio Udin ini disimpan secara berurutan dalam absensi dan duduk nya pun bersama-sama di bus bagian tengah berkursi 3. Ternyata Udin sedunia tidak hanya berlaku didalam sebuah lagu konyol saja, tapi benar-benar terjadi di kehidupan nyata. Sebuah kebetulan yang sangat unik namun lucu.

“Ayo……….. diabsen dulu”

“Trio Udin………………………”

“Adaaaaaaaaaaaaaaaaaa” LOL

Pukul 13.30 WIB bus pariwisata tanpa label yang kami tumpangi akhirnya tiba juga di ujung Provinsi Jawa Barat, Indramayu. Sekedar melepas lelah sang supir memilih untuk beristirahat disalah satu rumah makan di Jalur Pantura. Kesempatan itu pun tidak disia-siakan untuk sekedar merokok, buang hajat dan shalat. Selepas Indramayu dan memasuki Provinsi Jawa Tengah ternyata keadaan jalanan antar kota ini tidak bersahabat sama sekali. Ternyata efek mudik belum memudar sama sekali, macet pun menjadi santapan yang mau tidak mau harus diterima secara ikhlas. Kejenuhan pun mulai mendera para penghuni bus pariwisata ini, untung saja pada saat itu saat kernet bus melakukan sebuah maneuver jempolan, menyalakan TV dan memasang film lawas dengan sang pemeran utama Almarhum Benyamin. Film Lokomotiv Benyamin dan Tarsan Kota pun seolah menjadi sebuah pengantar tidur yang sangat ampuh bagi para penghuni bus yang mulai dihinggapi rasa suntuk dan bosan.


Jumat, 2 September 2011
Pukul 03.15 WIB ternyata bus baru sampai di kota pelajar Yogyakarta, pihak panitia pun memberikan sebuah kotak makanan berisi nasi, ayam, gudeg dan es the manis. Yang itu entah merupakan makan malam, pagi atau sahur. Tapi perut yang pada saat itu mulai meradang pun tanpa basa basi lagi langsung saja tancap gas (ayam milik saya pun menjadi rezeki nya Djal hehehe). Setelah istirahat dirasa cukup yang ditutp dengan melaksanakan shalat subuh di salah satu surau di bilangan jalan Malioboro, perjalanan pun dilanjutkan kembali. Rasa kantuk yang mendera pun lambat laun mulai menyerang hamper seluruh penghuni bus tidak terkecuali saya sendiri tentunya, maka sisa perjalanan berikutnya pun kembali milik alam bawah sadar mimpi.
 07.00 WIB – 23.00 WIB
Solo – Ngawi – Bojonegoro – Lamongan – Gresik – Surabaya – Sidoarjo – Pasuruan – Probolinggo – Panarukan – Situbondo – Banyuwangi.
Tidur – Bangun – Makan – Ngerokok – Shalat – Baca Buku – Tidur lagi – Bangun kembali – Buang hajat – Tidur lagi – Bangun kembali – Ngegosip – Minum Antimo – Tidur lagi – Bangun kembali – Makan – Ngerokok – Buang hajat – Tidur lagi –Bangun kembali – BORING L

Sabtu, 3 September 2011
Nah kalau yang ini wajib ditulis kembali, sekitar pukul 00.00 WIB akhirnya kami semua tiba di pelabuhan Katapang Banyuwangi, bagi saya pribadi ini merupakan pengalaman pertama dalam hidup saya keluar dari pulau Jawa dan pertama kali nya pula saya merasakan naik salah satu alat transportasi kapal Ferry. Terserah mau dibilang kampungan, norak atau apapun juga, yang jelas perasaan saya sangat bahagia banget-banget. Akhirnya rekor 26 tahun terkungkung di Pulau Jawa pun terpecahkan juga, Merdeka! Ternyata pengalaman pertama berlayar dilautan lepas cukup menegangkan juga bagi manusia yang tidak bisa berenang sama sekali seperti saya. Namun saat itu dikapal Ferry tersebut ada sebuah pemandangan yang sangat sangat amazing bagi saya, bagaimana tidak dari tengah lautan tersebut saya bersama rekan-rekan yang lainnya melihat gunung Merapi yang terletak di pesisir Provinsi Jawa Timur sedang mengeluarkan semburan-semburan lava yang berasal dari perut nya. Meskipun hanya dari kejauhan, namun pijaran-pijaran lava tersebut terlihat dengan sangat jelas. Subhanalllah….. sebuah pemandang terdahsyat yang biasanya hanya bisa dilihat di youtube saja.
Jam Swiss Army KW China seharga 45rb yang melingkar di pergelangan tangan telah menunjukan pukul 01.30 WIB, ketika kedua kaki ini pertama kalinya menginjakan di tanah Pulau Dewata Bali. Rasa senang, bahagia, aneh berkecambuk didalam diri menjadi satu. Memang benar pengalaman pertama di dalam hidup mau apapun itu jenisnya selalu membuat bingung namun pasti sangat berkesan dan akan selalu teringat sampai kapanpun. Ternyata saya pun baru tau jika ingin memasuki Pulau Bali pengamanannya bias dibilang cukup ketat, kami semua disuruh turun dari dalam bus dan berhadapan langsung dengan para petugas yang membawa senjata AK 47 layaknya di film Rambo untuk memeriksa Kartu Tanpa Penduduk. Sebenarnya bagus juga sih system pemeriksaan seperti ini, agar kejadian Bom Bali I dan II tidak terjadi kembali. Namun sayangnya pemeriksaan KTP di Pelabuhan Gilimanuk ini menurut saya hanya terkesan sebuah formalitas saja, bagaimana tidak pada saat pemeriksaan KTP oleh petugas hanya sekedar diperlihatkan saja, rasanya jika pada saat itu saya memperlihatkan KTP milik orang lain atau KTP palsu pun rasanya para petugas tersebut tidak akan pernah menyadari. Ada baiknya jika memang ingin pengamanan dilakukan secara lebih serius dan tidak terkesan main-main, apa susah nya melakukannya dengan system komputerisasi, apakah APBD Bali atau APBN Negara Indonesia tidak sanggup untuk menjalankan sebuah system yang lebih terarah, toh itu pun demi keamanan dan kenyamanan penduduk Negeri ini sendiri bukan. Siapa yang untung jika Pulau Bali tetap banyak dikunjungi para wisman local dan mancanegara, ujung-ujung nya pendapatan daerah itu sendiri bukan? Ya sudahlah mungkin para aparatur di Negeri ini lebih mengerti mengenai kondisi daerah dari Negara nya ini. Saya hanya sebagai kaum proletar hanya bias berdoa saja demi kemajuan sebuah Negara yang sangat saya cintai ini, namun saya benci dengan semua system nya yang berlaku.
Oh ya hampir saja terlupa sudah saat nya saya menambah satu jam yang tertera pada jam tangan dan handphone, karena saat ini saya sudah memasuki waktu bagian Indonesia Tengah (WITA). Itu berarti sekarang sudah pukul 02.30 WITA, lebih cepat satu jam dengan saudara-saudara kita yang berada di pulau Jawa. Selepas pemeriksaan KTP di pelabuhan Gilimanuk, kami semua pun mulai memasuki kembali bus Pariwisata yang sudah 2 hari kebelakang pantat ini begitu akrab nya dengan jok kursi nya. Ternyata tidak lama memasuki bus, diri ini langsung tertidur kembali dengan posisi yang sudah tidak berupa bentuk.
Pukul 06.00 WITA kegaduhan didalam bus pun kembali membangunkan diri ini dari alam bawah sadar mimpi, ternyata bus sudah sampai di pelabuhan Padang Bai untuk bersiap-siap kembali menyebrangi selat Lombok diatas kapal Ferry milik PT.PELNI yang kali ini kapal nya berukuran lebih besar dari sebelumnya. Karena memang lautan yang akan diarungi pun memang lebih panjang dan lebih memakan banyak waktu. Berlayar untuk kedua kalinya ini saya bias bersikap lebih tenang dan mungkin lebih menyenangkan karena dilakukan pada siang hari tidak seperti sebelumnya ditengah gelap nya malam, harap dimaklum efek parno nonton film Titanic masih terus menggrogoti meskipun sudah bertahun-tahun yang lalu nonton tuh film. Ternyata saya baru tau jika dalam berlayar yang kedua ini sangat memakan waktu yang cukup lama, untung saja saya tidak mempunyai penyakit mabuk di dalam perjalanan/laut, kalau punya bias gaswat abis. Rasa jenuh pun mulai melanda kembali, namun salah seorang teman Debo mengajak untuk sekedar photo session di geladak kapal untuk sekedar menghilangkan efek kebosanan. Setelah photo session dirasa cukup (malah kebanyakan banget), saya pun lebih memilih untuk menjauh dari keramaian alias menyendiri disalah satu sudut geladak kapal, sambil melanjutkan membaca novel Manjali dan Cakrabirawa karya Ayu Utami yang memang saya bawa dari rumah, sambil ditemani segelas kopi hitam, kepulan asap rokok, suara deburan ombak dan angin semilir tengah lautan yang menerpa wajah. Jujur saja saat-saat tersebut rasanya sangat sensasional, benar-benar kenikmatan duniawi yang tiada tara nya.
Pukul 10.30 WITA ternyata kapal sudah siap berlabuh kembali di pelabuhan Lembar Lombok, itu berarti perjalanan membelah lautan kali ini memakan waktu 4,5 jam. Begitu kapal menemui peraduannya secara perlahan, para isi kapal pun mulai berhamburan kembali menuju daratan secara perlahan. Perjalanan via darat dengan bus pariwisata pun kembali dilanjutkan kembali, sekita pukul 11.30 WITA ternyata bus sudah memasuki pusat kota Mataram, ibukota Provinsi Nusa Tenggara Barat. Yang telah berdiri setelah ditetapkan oleh Pemerintahan Negara Indonesia sejak tanggal 17 Desember 1958. Pusat kota Mataram sendiri ternyata tidak begitu jauh berbeda dengan kota-kota besar yang berada di Pulau Jawa. Setelah sedikit berputar-putar akhirnya kami semua pun tiba juga ditempat meeting point berikutnya yakni  Gedung Fakultas Hukum Universitas Mataram. Setibanya disalah satu sudut kampus, ternyata pihak panitia sudah menyiapkan makan siang untuk para peserta, menu nya pun masih sama nasi kardus berisi ayam featuring sayur mayur dan tempe tahu (ayam jatah saya kali ini menjadi rezeki nya Ray hehe). Setelah makan siang selesai pihak panitia pun memberikan waktu untuk beristirahat dan mandi disekitaran kampus. Sayang nya pada saat itu suasana kampus sedang liburan Idul Fitri, jadi saya tidak bias melihat aktivitas kampus terutama para mahasiswi nya hehehe (siapa tau panggih jodo, jodo kan jorok, tapi tapi tapi tapi daek wae lah! Eh dekeut apel na :p ).
Setelah istirahat, nge cas handphone, mandi dan shalat dirasa cukup perjalanan pun dilanjutkan kembali menuju tempat meeting point berikutnya yakni Desa Sembalun, yang merupakan start awal untuk pendakian menuju Gunung Rinjani. Namun ditengah perjalanan bus pun berhenti disalah satu tempat perbelanjaan modern di kota Mataram (untuk nama mall nya lupa lagi euy, tapi satu yang pasti di dalm nya ada supermarket modern Hero). Tim pendakian yang sebelumnya telah dibagi pun mulai berbelanja kebutuhan logistic masing-masing kelompok. Saya yang pada saat itu berada di kelompok 3, yang kesemuanya merupakan anggota Komunitas Pecinta Alam Warna Warni (KPAWW) pun mulai mengacak-ngacak isi supermarket, bagaimana tidak keberadaan 5 makhluk berjenis wanita di tubuh tim membuat urusan belanja menjadi semakin banyak karena hamper semua dibeli. Alhasil 6 kantong kresek berukuran besar pun menjadi bukti kongkret jarahan kami semua siang itu. Pukul 16.30 WITA perjalanan pun dilanjutkan kembali, ternyata jarak dari pusat kota Mataram menuju Desa Sembalun lumayan masih jauh juga ternyata, mau tidak mau saya pun kembali tertidur di sisa perjalanan. Tidur – bangun – makan – tidur – makan – bangun – berak – kencing – tidur – tidur – tidur.
Suara kegaduhan kembali menyadarkan diri dari alam bawah sadar mimpi, ketika melirik jam ditangan ternyata sudah menunjukan pukul 21.35 WITA dan ketika melihat keluar jendela bus ternyata sudah sampai di Desa Sembalun, tepat didepan kantor pengelola Taman Nasional Gunung Rinjani. Secara perlahan seluruh squad pun mulai turun dari dalam bus secara perlahan dan teratur, setelah membawa keril masing-masing, satu persatu pun mulai memasuki sebuah kantor yang kondisi nya kurang begitu terawat untuk beristirahat. Namun diluar dugaan ternyata keadaan di dalam kantor TNGR sudah penuh sesak oleh para peserta lainnya, maka tidak ada pilihan lain bagi saya dan rekan-rekan untuk mendirikan tenda di pekarangan kantor. Setelah 2 tenda berdiri dengan kokoh, kami para punggawa tim Ceria pun mulai memasak makan malam. Mie instant pun menjadi sebuah pilihan, selain karena alasan kepraktisan energy pun tidak akan dipergunakan untuk beberapa jam kedepan, karena hanya dipakai untuk tidur kembali. Setelah acara makan malam dirasa cukup dan sedikit beres-beres, kami semua pun mulai memasuki kandang nya masing-masing untuk beristirahat dan terlindungi dari dingin nya Desa Sembalun malam ini.


Minggu, 4 September 2011
Angin semilir khas daerah pegunungan yang langsung menyerang tulang belulang pun mulai berani memasuki celah-celah tenda dan resleting sleeping bag yang sudah tidak terkontrol posisi pemakaian nya. Ketika melihat jam di tangan ternyata telah menunjukan pukul 08.00 WITA dan suara gaduh para pendaki pun lambat laun mulai mengganggu di sekitaran luaran tenda.

Selepas melakukan packing ulang, sedikit sarapan dan tidak lupa memanjatkan doa pada sang Khalik, saya beserta rekan-rekan yang lainnya pun mulai melangkahkan kaki pertama yang dilanjutkan dengan puluhan ribu langkah berikutnya. Dalam etape awal ini saya lebih memilih untuk menjadi rombongan terakhir alias sweeper dalm tubuh tim, menemani beberapa rekan wanita. Namun setelah berjalan kurang lebih sekitar 2 jam nampaknya posisi saya sebagai sweeper tim nampaknya bias dibilang sangat tidak berguna sama sekali. Karena posisi para panitia sedari awal perjalanan sudah berada diurutan paling akhir rombongan. Akhirnya saya pun memutuskan untuk berjalan dibagian depan tim saja, selain karena alasan diatas, tidak tau mengapa jika baru memulai perjalanan pasti stamina saya sangat-sangat buruk bahkan bias dibilang sangat kepayahan. Padahal jalur yang dilalui bias dikatakan cukup enak, karena kita hanya melewati padang savanna. Namun sangat disayangkan cuaca kurang begitu bersahabat, kabut seolah enggan pergi, menutup Mahabiru yang masih tertegun dengan sangat anggun nya bernaung biru muda langit dan cahaya mentari yang mengintip dari kejauhan, seolah-olah memanggil kami semua untuk segera tiba disana.
Selain tertutupnya embun, perjalanan dalam etape awal ini pun kurang mendapatkan sesuatu yang menyegarkan mata dan hati. Karenahampir setengah padang savanna habis terbakar api, yang hanya menyisakan pemandangan coklat kehitam-hitaman buah karya si jago merah, sangat disayangkan L. Kurang lebih pukul 12.00 WITA kami semua akhirnya tiba juga di pos 1, sedari awal pihak panitia memang sudah mengagendakan jika semua rombongan akan beristirahat dan makan siang di pos ini. Acara masak-masakan pun akhirnya terlaksanan di pos ini, menu siang itu hanya 2 porsi spaghetti saus tomat yang dihabiskan 13 orang sekaligus, padahal porsi normal nya hanya diperuntukan untuk 8 orang saja, namun karena rasa kebersamaan sesama anggota tim, makan sedikit pun tidak menjadi sebuah masalah yang besar. Selepas makan siang dirasa cukup dan diakhiri dengan kenikmatan sebatang rokok yang tiada duanya, sayup-sayup angin lembab dan dingin pun seolah-olah ditiupkan pada wajah dan sekujur tubuh kami semua. Kelelahan pun hilang dalam sekejap dan tergantikan rasa kantuk yang mulai menyergap, standart orang Indonesia, lapar galak kenyang bego hehehe.
Pukul 01.15 WITA,  beres-beres dan berangkat. Trek yang dilalui masih sama seperti sebelumnya yakni jalur menanjak namun cukup landai ditengah-tengah padang savanna. Kondisi cuaca pun masih belum berubah, meskipun posisi matahari sedang tepat berada diatas kepala, namun sinarnya tertutup kabut yang masih enggan untuk pergi. Bahkan berkali-kali terdengar angin yang bergemuruh kencang dari kejauhan sana. Keringat yang awalnya membanjiri sekujur tubuh pun dalam hitungan beberapa menit saja langsung kering kembali seolah tak berbekas dalam sebuah bentuk cairan hanya menyisakan zat udara nya saja yang cukup tidak enak untuk dihirup hehehe. Bahkan jika sedang beristirahat terlalu lama, tubuh pun sangat tidak enak ketika hendak diajak bekerja kembali. 4 jam sudah saya beserta rekan-rekan yang lainnya meninggalkan pos pertama ketika istirahat makan siang. Kini kami semua sudah tiba di Pos 3, sementara Pos 2 sudah kami lewati sedari tadi. Kondisi di pos 3 ini bias dibilang luar biasa dinginnya, maka saya pun tanpa perlu membuang banyak waktu segera membuka keril berkapasitas 60 liter untuk mengambil jacket dan segera memakainya. Pos yang berada di ketinggian 1.819 Mdpl ini merupakan pos terakhir sebelum menuju pos Plawangan Sembalun, pos dimana mala mini kami semua akan mendirikan camp dan melanjutkan perjalanan dini hari nanti menuju Puncak Rinjani Mahabiru 3726 Mdpl. Namun sebelum sampai di pos Pelawangan Sembalun kami semua harus berhadapan dengan sebuah trek yang sangat berat, yang dikalangan para pendaki disebut dengan bukit penyesalan. Dan benar saja ketika saya melewatinya jalur yang harus dilalui luar biasa beratnya, selain itu pun kondisi fisik yang mulai melemah menjadi faktor penghambat. Entah 4 bukit, 5 bukit, 6 bukit atau 7 bukit yang harus dilalui, karena saya sudah tidak mengingatnya sama sekali, yang saya ingat ketika saya berhasil mencapai sebuah puncak bukit maka bukit berikutnya pun sudah menunggu dengan sangat anggun nya di depan pelupuk mata. Pantas saja dinamakan bukit penyesalan dan penyiksaan. Perlahan namun pasti akhirnya saya beserta rekan-rekan pun akhirnya tiba juga di pos Pelawangan Sembalun sekitar pukul 20.00 WITA.
Sebenarnya begitu sampai di Pos Pelawangan Sembalun, fisik sudah sangat capek dan letih, bahkan untuk mendirikan tenda pun sudah malas luar biasa rasanya, inginnya langsung meluncur menuju peraduan mimpi dibalik hangat nya sleeping bag. Namun mau tidak mau tenda pun harus didirikan dan membuat sedikit makanan untuk tubuh yang sedari sore sudah sangat merongrong. Ketika tenda berkapasitas 2 orang sudah berdiri dan siap beraksi didepan kompor dan peralatan masak, tiba-tiba saja cuaca sangat-sangat tidak bersahabat membuat ciut nyali siapapun yang hendak akan keluar tenda , beberapa kali angin berhembus dengan sangat kencang nya sehingga menimbulkan suara-suara yang cukup menakutkan di keheningan malam. Namun jika pada saat itu saya bersikap egoism aka tanap banyak berfikir pun saya pasti sudah ikut masuk juga ke dalam tenda meninggalkan urusan dapur yang makin ribet karena setiap kompor dinyalakan maka beberapa menit kemudian sang api langsung padam oleh hembusan angin sangat kencang. Tapi setelah difikir berulang kali, seluruh tim belum makan kembali sejak di pos 1 siang hari, mau tidak mau saya pun tetap melanjutkan memasak seorang diri dengan memindahkan posisi memasak tepat di depan tenda yang sedikit tertutup agar sang api kompor tidak cepat padam. Setelah menyelesaikan urusan dapur yang hanya menghasilkan beberapa jenis saja dengan kuantiti yang sangat sedikit karena faktor kompor yang selalu mati tertiup angin. Maka saya pun segera bergabung dengan rekan-rekan yang lainnya disalah satu tenda untuk sedikit makan dan membicarakan rencana untuk perjalanan summit attack diri hari nanti.
Setelah makanan disapu bersih dalam hitungan menit dan sedikit berbincang-bincang akhirnya satu persatu pasukan pun meminta izin untuk beristirahat di dalam tenda nya masing-masing, selain karena badan memang sudah meminta jatahnya untuk beristirahat ternyata jam yang melingkar di tangan pun telah menunjukan pukul 23.00 WITA, yang hanya menyisakan beberapa jam saja menjelang summit attack dini hari nanti. Tanpa perlu membuang waktu akhirnya saya pun segera menyusul rekan-rekan lainnya menuju peraduan mimpi. Tanpa lupa ditemani si MP3 mini sang pujaan hati yang selalu setia menemani. OPEN FILE -> MUSRIK -> LOCAL HEROES -> EFEK RUMAH KACA – TUBUHMU MEMBIRU TRAGIS.MP3

kamu ingin melompat…
ingin sekali melompat…
dari ketinggian di ujung sana…
menuju entah apa namanya…

coba bukalah mata…
indah dibawah sana…
tutup rapat kedua telinga…
dari bisikan entah dimana…

kau terbang dari ketinggian…
mencari yang paling sunyi…
dan kau melayang…
mencari mimpi-mimpi tak kunjung nyata…

kulihat engkau terkulai…
tubuh membiru… tragis… tragis…
perihmu yang mengganga…
tak hentinya bertanya…

hidup tak selamanya linier…
tubuh tak seharusnya tersier…
kulihat engkau terkulai….
tubuhmu membiru… tragis… tragis…



Senin, 5 September 2011
Pukul 02.00 WITA angin kencang Pelawangan Sembalun langsung menyerang seluruh bagian tubuh yang sudah tertutupi sleeping bag, ketika Mas Agung membuka pintu tenda sehingga mengakibatkan otomatis tubuh ini langsung terjaga dari alam bawah sadar mimpi. Udara dingin dan angin yang menggelegar seperti demikian memang pasti akan membuat semua orang jiper, tidak terkecuali saya sendiri tentunya. Dan inilah rasa dingin terdahsyat yang pernah saya alami seumur hidup, entah sudah berapa derajat udara diluaran sana. Pada saat itu saya memilih untuk menyerah saja ketika rekan-rekan diluaran tenda memanggil-manggil nama saya untuk segera menyusul mereka melakukan summit attack. Saya lebih memilih melanjutkan beristirahat dengan balutan sleeping bag yang mulai menghangat kembali, dibandingkan ikut keluar.

Tapi… tapi… tapi… tapi… tapi… tapi… entah berapa puluh kata tapi yang tiba-tiba saja menyerang pada saat saya akan memejamkan mata kembali. Saya pun mencoba berfikir sejernih mungkin dan menghilangkan rasa kantuk yang mendera. Sayang banget jika saya harus menyerah begitu saja hanya karena udara dingin dan hembusan angin yang kencang, sangat cetek rasanya. Percuma saja saya menghabiskan uang dengan jumlah yang sangat besar untuk perjalanan kali ini, meninggalkan kewajiban mudik yang hanya satu tahun sekali dan menghambur-hamburkan waktu. Entah tenaga dari mana, tiba-tiba saja saya segera berdiri melepaskan sleeping bag, ganti baju, memakai jacket tambahan, sepatu, memasang geyter, mengambil headlamp beserta batere cadangan dan langsung keluar tenda. Ternyata keadaan diluaran tenda sudah sangat sepi hanya menyisakan beberapa orang saja, karena sebagian besar yang lainnya sudah mulai berjalan sedari tadi ketika memanggil-manggil nama saya didalam tenda. Ketika saya melirik jam, ternyata memang sudah menunjukan pukul 03.00 WITA. Tanpa buang waktu saya pun segera ber doa demi keselamatan selama perjalanan dan mengambil sebuah air mineral berukuran besar yang tergeletak begitu saja disamping tenda bersama-sama beberapa botol yang lainnya. Saya pun segera melangkahkan kaki yang diikuti beberapa rekan-rekan lainnya yang memang juga tertinggal dari rombongan besar. Rasa kantuk yang masih mendera membuat perjalanan awal ini sangat tidak maksimal, nyawa pun seperti belum terkumpul semua dan entah masih berada dimana. Beberapa kali kami melewati kerumunan tenda kosong yang telah ditinggalkan para penghuninya, kerena mereka semua memang tengah melakukan perjalanan menuju Puncak Rinjani seperti saya dan rekan-rekan yang lainnya. Memang masih banyak juga rombongan lainnya yang masih berada di bawah saya, namun jumlahnya jauh berbeda jika dibandingkan dengan yang terlebih dahulu.
1 jam pun telah berlalu sejak kami meninggalkan camp di Pelawangan Sembalun, tiba-tiba seorang teman berkata break, menyuruh kami semua untuk beristirahat pertama kalinya di tengah malam itu. Seorang rekan Dhea pun berbicara meminta untuk meminta minum, karena memang dia sudah terlihat cukup kepayahan dengan medan pasir yang cukup berat selama satu jam pertama. Secara refleks saya yang berada persis disebelahnya pun memberikan sebuah botol air mineral yang saya tenteng sejak camp Pelawangan Sembalun. Namun tiba-tiba saja…….
Huuuuueeeeeeeeeekkkkkkkkkkkkkkk…………………!
Dhea memuntahkan kembali seluruh air minum yang tadi diteguk. Rasa kaget yang bercampur dengan beragam pertanyaan pun tiba-tiba berkecambuk dalam diri. Tiba-tiba dengan suara parau nya Dhea pun berbicara…… SPIRTUS!
Astagfirullahaladzim…. Siap yang menyimpan botol isi spirtus bersatu dengan sisa air minum disekitaran tenda. Saya yang membawa botol tersebut pun merasa sangat ber dosa dan sangat-sangat bersalah. Namun dengan cukup cekatan salah seorang rekan yang lainnya Ray memberikan sebuah minuman berkemasan rasa kacang ijo pada Dhea agar menghilangkan rasa sebal yang ditinggalkan spirtus didalam mulut terutama pada lidah. Saya pun pada saat itu menawarkan sebuah pilihan pada Dhea, memilih melanjutkan perjalanan menuju puncak yang masih amat sangat jauh atau saya antar kembali menuju camp di Plawangan Sembalun bergabung bersama rekan-rekan lainnya yang memang sedari awal tidak akan muncak. Namun pada saat itu Dhea lebih memilih untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak meskipun dengan kondisi kepala yang nyut-nyut an menurutnya. Jadilah dalam sisa perjalanan saya menuntun dan terkadang menarik tangan Dhea untuk membatu melangkahkan kaki langkah demi langkah.
Maafkan teteh Agnes Monica…. tenang saja pada saat itu kami berdua memakai sarung tangan kok, jadi insya Allah tangan kami berdua tidak bersentuhan secara langsung dan bukan mahrom nya pun masih terjaga hahahahaha….
“Agnes Monica says: SAKAREPMU!
Perjalanan selanjutnya masih sama saja dengan sebelumnya, berjalan ditengah jalur berpasir dengan bagian kanan-kiri jurang yang cukup mengangga, namun untung nya malam menjelang subuh tersebut Allah SWT sangat baik sekali pada kami semua, meskipun angin kencang tidak berhenti berhembus namun cerahnya langit membuat perjalanan menjadi lebih sedikit menyenangkan, karena disuguhi pemandangan yang sangat luar biasa indahnya. Bulan utuh dengan hamburan bintang terlihat dan terasa sangat dekat hanya beberapa meter saja diatas kepala. Belum lagi bintang jatuh yang terekam mata, otak dan hati entah berapa kali nyaris tidak terhitung. Kalau kata orang bilang suasana nya mencekam namun sangat romantis.
Sayang banget dah moment romantis gini, pas lagi jalan berdua sama s Dhea! Damn! Coba kalau lagi  sama lagi sama teteh Agnes Monica hahahaha…… piss Dhe :p
Mungkin detik ini di saat orang-orang kebanyakan sedang terlelap tidur dibuai mimpi diatas kasur dan dibalik selimut (harimau) dengan televisi yang masih menyala karena tidak sempat dimatikan. Saya beserta rekan-rekan yang lainnya justru terjaga berjalan berjam-jam lamanya demi sebuah hasil yang nantinya tidak akan ternilai oleh apapun. Dibelakang Dhea nampak sudah sangat kepayahan, meskipun posisinya ditarik menggunakan tangan ini. Setapak demi setapak langkah kakinya terus menyusuri terjalnya bebatuan berpasir. Disaat langit ber urat merah kekuning-kuningan yang seolah menjadi pertanda jika sang surya akan segera muncul dan menyinari alam semesta, saya dan Dhea masih terus berjalan perlahan dan diselingi break yang sudah tidak terhitung dengan jari kami berdua bila digabungkan. Ketika saya menoleh kebelakang, memang hanya tinggal menyisakan beberapa pendaki saja karena memang sedari tadi kami berjalan entah sudah berapa pendaki yang mendahului kami. Menikmati pemandangan sang surya terbit pun harus kami rasakan ditengah-tengah perjalanan tidak dipuncak Rinjani sang Mahabiru. Tapi tidak mengapa, karena tiba dipuncak mau jam berapa pun bukan sebuah masalah, yang terpenting kami bisa sampai disana dan sudah menjadi sebuah prestasi tersendiri. Mahabiru pun kini sudah terlihat dengan sangat jelas, ternyata dari sudut pandang mata pun terlihat masih cukup jauh dan bisa menghabiskan waktu beberapa jam lagi untuk tiba disana.
Kini hitungannya bukan lagi berapa pendaki yang berhasil menyusul kami, namun berapa pendaki yang berpapasan dengan kami yang akan turun setelah berhasil melakukan summit attack di Puncak Rinajani. Kondisi Dhea yang saya kerek pun mulai tidak bisa mengimbangi jalan saya yang bisa dikatakan sudah sangat-sangat lambat sekali, tampak Dhea sudah sudah sangat kepayahan dengan stamina yang mungkin sudah habis, beberapa butir coklat dan keju yang saya berikan pun nyaris tidak berdampak. Diam, diam, diam, diam dan diam yang hanya bisa dikerjakan. Sebenarnya pada saat itu fisik saya masih kuat jika harus mengerek Dhea untuk beberapa jam kedepan sampai di puncak Rinjani. Namun tidak disangka dan diduga akhirnya Dhea pun mengeluarkan sebuah kata yang sangat-sangat dihindari MENYERAH. Padahal puncak sudah terlihat dengan sangat jelas, menyisakan kurang lebihh 1 sampai 2 jam perjalanan lagi. Pada saat saya paksa kembali nampaknya Dhea pun seperti sudah tidak sanggup, hal itu terbukti dengan posisi jalan nya yang sudah sempoyongan. Akhirnya beberapa meter didepan, saya pun bertemu dengan beberpa orang panitia yang memang tengah beristirahat sambil menunggui yang lainnnya. Akhirnya Dhea pun memilih bergabung dengn para panitia untuk kembali lagi kebawah dan menyuruh saya untuk melanjutkan perjalanan. Ketika melirik jam ternyata sudah menunjukan kurang lebih pukul 09.00 WITA, sebenarnya sayang banget jika harus menyerah setelah berjalan hampir 6 jam lamanya dan tinggal menyisakan perjalanan yang kurang lebih hanya tinggal 1-2 jam saja. Namun setelah segala upaya untuk membujuk gagal, akhirnya mau tidak mau saya pun melanjutkan perjalanan kembali menuju puncak bersama beberapa rekan yang lainnya Arum dan Indah. Yang secara kebetualn memang sedang beristirahat juga beberapa meter setelah Dhea menyerah. Langkah demi langkah pun mulai terasa capeknya kali ini, padahal selama 6 jam kebelakang berjalan dengan posisi menarik tidak terasa terlalu capek, tetapi ketika melakukan perjalanan seorang diri rasa capek nampaknya secara perlahan mulai menjalar pada sekujur tubuh. Ketika Mahabiru tinggal menyisakan beberapa meter saja, tanpa memperdulikan rasa capek sayapun segera mempercepat langkah kaki nyaris berlari.
 “ALLAHUAKBAR…………….!!!
Secara refleks diri ini tiba-tiba saja bersujud dan airmata pun mulai keluar secara perlahan dari pelupuk mata. Teman-teman lainnya yang menunggu dipuncak pun menyalami saya secara bergantian. Rasa haru, bangga, bahagia pun berkecambuk menjadi satu di dalam diri. Terbayar sudah rasa lelah dan berat nya perjuangan untuk menggapai Mahabiru. Keindahan di depan mata pun masuk kedalam hati hingga memberikan rasa tenang dan kebahagiaan yang sangat luar biasa dan tidak bisa dibayar olah apapun itu. Kuarahkan pandangan mata pada sekeliling, awan-awan masih dengan sangat setia nya berkumpul bagaikan kapas gulali makanan khas pasar malam para kaum yang termarjinalkan. Gunung Tambora di Pulau Sumbawa dan Gunung Agung di Pulau Dewata pun terlihat hanya bagian puncak nya saja karena bagian yang lainnya tertutup gerombolan awan. Dan di bawah sana terlihat dengan sangat eksotis nya Danau Segara Anak beserta Gunung Ibu Jari nya yang mulai tumbuh membesar. Hanya ada satu kata saja yang dapat mewakili semuanya, JUARA!

Mahabiru – Rinjani

Mendaki jalanmu nyaris seperti mendaki kehidupan
Perut lapar udara dingin angkuhnya matahari
bagian sebuah perjuangan
Persahabatan pertentangan persaudaraan perpecahan
menjadi sebuah bumbu
Karena ego dan kesabaran menjadi
dua mata pisau yang siap beradu
Semua itu demi sebuah mimpi dan arti kata
manusia merdeka seperti degup jantungmu
Layaknya sepasang remaja yang sedang bercumbu
dikejar waktu tanpa tahu malu
                                                                 
Mahabiru….. kecantikanmu menjadi
pelipur lara raga yang mengangga
Mahabiru….. keramahanmu menghilangkan
segala keluh kesah yang kami bawa
Mahabiru….. kebekuanmu mencairkan
angkuh nya jiwa
Mahabiru….. terima kasih untuk semua
hingga kumenyadari akan kecilnya diri ini 
dihadapan Sang Pencipta

Dwi Anugrah Mugia Utama  
Senin, 5 September 2011; 10.30 WITA

Setelah puas merasakan salah satu karunia Allah SWT yang tiada duanya di Puncak Gunung Rinjani hampir satu jam lamanya. Akhirnya saya beserta rekan-rekan pun mulai melangkahkan kaki untuk turun kembali ke bawah, langkah kaki pun harus diperhatikan dengan se seksama dan sehati-hati mungkin,  karena di sisi kiri dan kanan jurang sangat begitu mengangga.  Belum lagi medan pasir yang begitu licin nya membuat saya seperti sedang bermain sepatu roda diatas pasir. Namun terbesit rasa sedih yang cukup berat ketika harus meninggalkan Mahabiru siang itu, namun lambat laun rasa kesedihan tersebut berganti dengan rasa haru dan bangga. Ternyata tempaan kehidupan ala perkotaan setiap harinya yang terkadang membuat diri saya lemah bisa juga tergantikan dengan cukup baik ketika saya sedang melakukan sebuah pendakian, allhamdulilah.
Sekitar pukul 15.00 WITA akhirnya saya pun tiba kembali dengan sehat walafiat tidak kekurangan suatu apapun di pos Pelawangan Sembalun. Kedatangan saya beserta rekan-rekan pun disambut oleh beberapa rekan lainnya yang memang tidak muncak. Begitu tiba, allhamdulilah sudah tersaji beberapa makanan yang telah siap untuk untuk dimusnakan dengan sesegera mungkin. Sehingga dalam kondisi capek dan lapar seperti ini saya tidak harus menunggu terlalu lama untuk memasak. Selepas mengisi perut sebenarnya saya sudah bersiap untuk beristirahat tidur untuk 2-3 jam kedepan, sekedar menyegarkan badan. Namun terdengar beberapa kali dari luaran tenda, beberapa kali pihak panitia meminta kami untuk mulai melakukan packing barang, sebagai persiapan perjalanan menuju Danau Segara Anakan. Jujur pada saat itu saya sangat marah pada pihak panitia, bagaimana tidak disaat tubuh sangat lelah luar biasa setelah melakukan perjalanan yang sangat berat ditambah sangat kurang nya tidur di malam harinya. Beberapa orang panitia dengan sangat enteng nya agar kami bersiap kembali melakukan perjalanan. Namun akhirnya sang ketua kelompok kami Djal mencoba berunding dengan pihak panitia, akhirnya kami semua memutuskan untuk melanjutkan perjalanan selepas Maghrib, dengan pertimbangan salah seorang rekan kami Indah memerlukan istirahat. Setelah pada saat tadi muncak terserang sebuah penyakit yang menyerang pernafasan. Jujur sebenarnya yang saya pribadi inginkan yakni nge camp untuk satu malam lagi di Plawangan Sembalun ini, bukan mengapa karena bisa dikatakan kelompok kami sangat membutuhkan istirahat yang lebih. Bisa dibayangkan pada hari itu saya sendiri berjalan dan mendaki kurang lebih 11 jam, belum beberapa rekan yang lebih banyak 1-2 jam. Kini kami harus dihadapkan kembali pada perjalanan menuju danau, padahal bisa dikatakan sebagian besar para peserta yang bergabung merupakan orang baru dalam dunia pendakian, bahkan beberapa orang di kelompok saya sendiri sebagian besar nya baru pertama kali merasakan bagaimana rasanya naik gunung. Namun pihak panitia menjadikan jadwal sebagai tolak ukur, akhirnya kami semua pun mau tidak mau harus mengalah dan kembali melanjutkan perjalanan. Rasa kantuk yang awalnya sangat mendera pun otomatis raib entah kemana ketika rasa emosi bergelora. Akhirnya saya pun lebih memilih diam dan urusan dapur menjadi sebuah pelarian yang cukup mujarab. Selesai memasak dan memakan nya beramai-ramai saya pun mulai melakukan packing ulang barang bawaan yang sudah tercecer kemana-mana.
Selepas Maghrib (meskipun tidak terdengar suara adzan sedikitpun) kami semua telah siap melanjutkan perjalanan menuju Danau Segara Anakan dibawah sana. Kali ini perjalanan saya bisa dikatakan sangat lambat sekali, selain karena stamina yang tersisa hanya tinggal sedikit, medan turunan yang harus dilalui pun cukup curum hingga perjalanan pun harus dilakukan dengan sangat ekstra hati-hati. Konsentrasi penuh benar-benar diperlukan ketika melakukan perjalanan dikegelapan malam hari seperti ini, hal ini pun terbukti dengan tergelincirnya beberapa teman karena kurang nya konsentrasi. Pada saat itu saya dan Mas Agung berjalan dibagian depan rombongan, karena memang kami ber dua berencana duluan untuk sampai di danau. Namun belum lama kami berjalan kami berdua memilih jalur yang salah, jalur yang dilalui terus menerus menurun dan jalur nya pun menyempit. Ketika terus berjalan ternyata kami berdua sudah berada di tepian jurang. Subhanallah…. Mau tidak mau kami pun harus berjalan kembali ke jalur yang sebelum nya telah dilalui. Namun begitu menmui jalur besar yang sebelumnya telah dilalui, samar-samar mulai terlihat cahaya yang bersumber dari headlamp yang dipakai oleh rekan-rekan. Akhirnya saya dan Mas Agung pun memilih untuk menunggu dan melanjutkan sisa perjalanan bersama kembali dengan rekan-rekan yang lainnya. Sekitar pukul 23.00 WITA akhirnya saya beserta sebagian besar rekan tim yang lainnya tiba juga di sekitaran Danau Segara Anak. Namun ada beberapa rekan wanita yang katanya tiba disekitaran danau ini baru pukul 02.00 WITA bersama beberapa orang dari pihak panitia.
Tanpa membuang waktu saya pun segera mendirikan tenda berkapasitas 2 orang yang selau setia menemani. Selepas tenda berdiri, beberapa rekan mulai menyibukan diri dengan urusan dapur, untuk sekedar membuat minuman hangat ata cemilan-cemilan. Namun pada saat itu saya sudah sangat tidak berselera sama sekali untuk makan atau bahkan sekedar minum-minuman hangat. Akhirnya saya pun meminta izin kepada rekan-rekan yang lainnya untuk beristirahat duluan ditengah cuaca Danau Segara Anak yang sudah mulai membeku diakibatkan hembusan angin yang lambat laun mulai terasa besar. Saya pun segera masuk dan menutup tenda, mengganti baju dan segera membiarkan tubuh ini dibalut sleeping bag yang cukup hangat. Akkkhhhhhhh……. nikmatnya! Sebagai pengantar tidur saya pun segera mengeluarkan MP3 mungil kesayangan dan OPEN FILE -> MUSRIK -> WESTSIDE -> ERIC CLAPTON – WONDERFUL TONIGHT.MP3



Selasa, 6 September 2011
Pukul 08.00 WITA dan inilah bangun tidur ternikmat selama seumur hidup, setelah seharian kemarin badan ini terposir habis-habisan, tidur dengan kuantiti dan kualitas yang sangat pas membuat badan ini sangat segar untuk memulai hari baru di salah satu sudut Danau Segara Anakan Gunung Rinjani. Akkkkkhhhhhhh…………. awal hari yang sangat menyenangkan dan membuat hati sangat gembira.

Ternyata kondisi diluaran tenda sudah begitu ramai nya, karena beberapa teman sedang berurusan dengan masalah dapur dan sebagian besar lainnya sedang merasakan sensasi berendam air panas di salah satu sudut Danau Segara Anakan ini.  Wow….. saya pun tidak ingin kalah tentu nya, tanpa perlu membuang waktu saya pun segera membawa beberapa peralatan mandi dari dalam keril kesayangan. Ternyata tempat kolam air panas ini tidak begitu jauh dari tempat kami nge camp, kurang lebih berjalan sekitar 5 menit saja dengan menaiki dan menuruni bukit yang menukik cukup tajam. Kondisi aliran sungai air panas ini sudah tidak terlalu ramai menurut salah seorang teman, tidak seperti beberapa jam yang lalu. Saya dan beberapa rekan pun langsung mencari spot yang merenah tumaninah untuk merasakan sensasi yang sangat luar biasa ini. Begitu badan masuk ke dalam air yang sangat panas ini secara perlahan dan bertahap, rasanya tubuh seperti sedang dipijat dan sangat luar biasa nikmat nya dan tiada dua. Memang Allah SWT maha baik, bagaimana tidak setelah kita bercapek-capek ria selama 2 hari kebelakang, tiba-tiba saja kecapek an itu terbayar tunai tanpa kredit saat itu juga. Hanya ada satu kata LUARBIASANIKMATNYA!
Setelah berendam dan sedikit mandi, saya dan mas Agung pun mengambil air bersih untuk persediaan di sebuah mata air yang ternyata terletak tidak begitu jauh dari kolam air panas. Unik sangat, air panas dan air dingin tetanggaan ternyata sumber mata air nya. Rinjani… Rinjani… Rinjani… kejutanmu memang ga ada abisnya.  Keadaan sumber mata air pagi itu ternyata begitu ramai nya oleh para pendaki, kerena sumber air itu hanya terdiri dari 2 pancuran yang secara terus menurus mengalir sedangkan para pendaki pagi itu sedang banyak-banyak nya, maka mengantri pun menjadi sebuah pilihan yang mau tidak mau harus dilakukan. Akhirnya saya pun memilih menunggu di pinggiran jalur sedangkan tugas mengantri air dibebankan sepenuhnya pada mas Agung hehehehe. Setelah selesai mengisi air, saya dan mas Agung pun segera menemui rekan-rekan lainnya yang ternyata masih asyik berada di depan kompor. Entah memasak apa, yang pasti dari tadi belum beres-beres. Tapi inilah sebenarnya salah satu seni terdahsyat jika sedang naik gunung, bercengkraman dan ngobrol ngarol-ngidul sambil ditemani minuman-minuman hangat dan sedikit cemilan. Memang secara kasat mata mungkin sama saja jika kita sedang mengobrol dengan teman-teman baik itu di sebuah cafe atau tempat lainnya. Tapi percayalah saling bercengkraman di alam terbuka seperti ini mempunyai sensasi tersendiri, rasa kekeluargaan yang terbangun pun akan sangat jauh berbeda dengan tempaan ala perkotaan.
Setelah perut terisi dengan sangat sempurna pagi hari ini, saya pun segera menyusul beberapa rekan yang lainnya yang sedang begitu asyik nya memancing di Danau Segara Anakan. Ya sekedar informasi Danau Segara Anakan ini memang banyak sekali dihuni oleh berbagai jenis ikan, seperti ikan karper, mas atau mujaer. Ikan disini boleh dipancing oleh siapapun yang berkunjung kesana, bahkan penduduk asli sekitar Taman Nasional Gunung Rinjani pun sering mendatangi tempat yang luar biasa indahnya ini, hanya untuk sekedar memancing dan memakan nya bersama-sama anggota keluarga yang lainnya. Konon entah benar atau tidak bibit-bibit ikan di sekitaran Danau Segara Anakan ini dahulu disebar oleh Alm. Ibu Tien Soeharto ketika masih menjabat sebagai Ibu Negara. Maka jangan heran karena keindahan nya yang sangat luar biasa ini Danau Segara Anakan pun pernah menjadi gambar pada mata uang rupiah pecahan Rp.50.000 pada masa orde baru yang lalu.
Nama Segara Anakan sendiri mempunyai arti Anak Lautan. Yang awalnya merupakan hasil letusan Gunung Rinjani lama yang sangat besar dan lambat laun hasil semburan lava tersebut pun mulai terisi air dan jadilah sebuah danau kawah tidak aktif yang sangat indah. Luas danau ini kurang lebih sekitar 11.000.000 meter persegi, memiliki kedalaman 230 meter dan berada pada ketinggian 2000 Mdpl. Ditengah-tengah Danau Segara Anakan tersebut terdapat sebuah gunung yang bernama Gunung Ibu Jari. Terbentuknya Gunung Ibu Jari ini berkaitan erat dengan letusan terakhir Gunung Rinjani di tahun 1994 silam, pada saat itu letusan hebat Gunung Rinjani mengakibatkan pembentukannya sebuah gunung baru akibat terangkatnya dasar Danau Segara Anakan. Gunung Ibu Jari ini didominasi oleh pasir dengan kondisi yang sangat kering dan gundul. Puncak Gunung Ibu Jari sendiri memiliki ketinggian 2296 – 2376 Mdpl. Namun setiap harinya ketinggian gunung ini terus bertambah karena semburan – semburan kecil yang sering terjadi sehingga menghasilkan tumpukan-tumpukan pasir baru di lapisan paling atas. Selama Bumi masih berputar…. Rinjani pun akan tetap hidup….
Photo session Danau Segara Anakan pun seolah menjadi menu wajib kami semua dan mungkin memakan waktu yang paling lama. Entah sudah berapa spot yang saya dan teman-teman lainnya datangi demi mendapatkan hasil dan angel yang sesempurna mungkin. Namun ternyata foto dimana pun hasil nya tetap saja bagus, karena kali ini faktor latar belakang foto yang membuat semuanya seakan sempurna. Bukan lagi sang pemegang camera, camera yang dipakai atau siapa yang menjadi model nya. Setelah semuanya dirasa cukup, kami semua pun segera menuju camp untuk bersiap-siap sekaligus melakukan packing ulang untuk melanjutkan perjalanan menuju meeting point berikutnya Plawangan Senaru. Beberapa teman yang sedang mancing pun saya tarik paksa agar mereka pun untuk segera melakukan packing ulang. Karena jika tidak dipaksa mereka semua terlalu santai bisa lupa lupa waktu dan lupa segalanya, tapi jika dilihat hasil tangkapan nya sangat payah, mereka hanya mendapatkan beberapa ikan saja yang ukuran nya pun kecil-kecil. Berbeda jauh dengan para pendaki lainnya yang terlihat hasil tangkapannya sangat luar bisa banyak dan ikan yang didapatkan pun berukuran besar-besar. Skill sang pemancing kali ini yang menentukan hehehe. Bahkan beberapa kali saya menemui para pendaki yang sedari awal memang sengaja membawa umpan racikan nya sendiri dari rumah nya masing-masing, maka makin terlihat lah mana mereka yang benar-benar niat untuk memancing di Segara Anakan atau hanya sekedar icikibung memeriahkan suasana seperti teman-teman saya.
Tepat pukul 13.30 WITA akhirnya kami semua pun mulai meninggalkan Danau Segara Anakan dengan kesedihan dan kekecewaan, karena kami semua hanya sebentar saja menikmati suasa yang sangat mengaggumkan maha karya sang Pencipta ini. Namun saya sempat berjanji dalam hati, jika memang masih di berikan umur, suatu saat insya Allah pasti saya akan kembali lagi ke Danau Segara Anakan ini. Untuk sekedar berlibur menghabiskan waktu sampai satu minggu mungkin hehehe who knows?. Sebelum melangkahkan kaki pertama yang dilanjut dengan puluhan ribu langkah kaki lainnya, tak bosan-bosan nya saya pun berdoa pada Allah SWT Sang Maha Segala nya agar diberikan kemudahan dan kelancaran selama sisa perjalanan ini. Trek awal yang kami lalui yakni mengelilingi danau Segara Anakan ke arah kanan jalan, namun beberapa kali kami pun harus melewati akar-akar pohon yang menggantung tepat di atas air danau. Selepas Danau Segara Anakan habis terlewati, trek yang dilalui pun kembali berbeda, kali ini jalur menanjak pun mau tidak mau harus dihadapi. Dan secara keseluruhan trek nya pun bisa dibilang cukup berat, karena kita berjalan melewati punggungan gunung yang secara kemiringan pun cukup lumayan parah. Namun selama perjalanan ini lagi-lagi pemandangan Danau Segara Anakan membuat mata dan hati ini tak pernah bosan untuk melihat dan mengaguminya. Bahkan dalam perjalanan menuju Pelawangan Senaru kali ini saya sempat berjalan bersama 2 orang bule asal Nantes France, yang berkali-kali memuji keindahan Gunung Rinjani beserta Segara Anakan nya ini. Bahkan melalui percakapan singkat ketika kami semua sedang beristirahat bersamaan sambil menikmati Segara Anakan dari ketinggian, bahwa mereka berdua memang sengaja mengunjungi pulau Lombok ini dalam rangka bulan madu pernikahn mereka berdua. Selain menuju Rinjani mereka pun berencana akan berkunjung ke Senggigi dan Gili Trawangan dan akan diakhiri dengan mengunjungi Thailand sebagai penutup nya. Ketika saya bertanya mengapa mereka bisa sampai memilih Pulau Lombok,mereka pun menjawab dengan sangat singkat, heavier than heaven. Wow…. jujur saya terharu mendengar jawaban dua bule yang sedang tepat berada di depan saya ini, meskipun terdengar sangat hiperbolis namun tetap saja saya sangat menikmati pujian tersebut, semakin bangga lah diri ini dengan keindahan Negara kepulauan terbesar di dunia Indonesia. Setelah istirahat dirasa cukup, mereka berdua pun meminta izin untuk melanjutkan perjalanan terlebih dahulu. Sambil melangkahkan kaki, mereka pun sedikit berkata yang nyaris seperti berteriak pada saya, your country is amazing!. Saya hanya pun hanya bisa tersenyum dan berkata pelan thank you J.
Teman-teman yang berjalan dibelakang saya sedari awal perjalanan pun mulai terlihat kembali, maka saya pun mulai berdiri dan memasang kembali keril di pundak yang beratnya nyaris tidak berkurang sama sekali semenjak keberangkatan. Perjalanan menuju Pelawangan Sembalun pun saya lanjutkan kembali dengan berjalan seorang diri. Trek yang harus dilalui bisa dikatakan cukup enak, karena kita hanya melewati punggungan tebing yang menjulang tinggi dengan jalur yang kadang menanjank namun terkadang juga menurun. Bahkan sekitar dua kali saya melewati sebuah jembatan yang terbuat dari semi besi dengan posisi tergantung, aneh sekaligus unik. Baru pertama saya nemu gunung yang ada tangga semi besi ditengah-tengah perjalanan nya hehe, saya pun langsung berfikir gimana caranya tuh tangga bisa di bawa sampe di ketinggian ini. Sekitar pukul 17.00 WITA akhirnya saya yang berjalan seorang diri pun tiba juga di pos Plawangan Senaru, sedari awal memang saya berencana akan menunggu rekan-rekan yang lainnya disini sambil sedikit beristirahat. Di pos Plawangan Senaru ini ternyata saya bertemu beberapa orang rekan yang lainnya, maka saya pun ikut beristirahat bersama dengan mereka tepat di antara 3 tenda milik bule Belanda. Kenapa saya tau mereka orang Belanda? karena terdengar dari bahasa yang mereka pergunakan hehehe…. Namun rencana tinggallah rencana, udara dingin yang menyelimuti Plawangan Senaru membuat saya dan yang lainnya tidak kuat jika harus diam disini lebih lama lagi, badan ini harus sesegera mungkin kembali digerakan agar keringat dapat kembali keluar seperti sebelumnya. Maka saya dan yang lainnya pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kembali, dan menunggu di pos berikutnya yang sedikit tertutup hutan agar udara nya tidak se ekstrem seperti di Pelawangan Senaru ini. Perjalanan pun dilanjutkan kembali dengan melewati medan pasir yang cukp mengganggu mata dan pernapasan, karna debu langsugn beterbangan ke segala arah tertiup angin ketika kaki bergerak sedikit saja diatas permukaannya. Menjelang maghrib saya dan salah seorang rekan Apoey pun tiba juga di pos 3 yang sekaligus juga merupakan pos terakhir untuk kawasan berpasir, karena dari sini sampai bawah jalur yang akan dilaui yakni trek yang menurun diantara rerimbunan pohon hutan. Ketika yang lainnya sedang beristirahat di pos 3 ini saya dan Apoey lebih memilih untuk melanjutkan perjalanan saja, karena badan memang sudah tidak kuat, berdiam diri sebentar saja badan langsung terasa drop dan membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk mengembalikan nya pada posisi on the top. Saya beserta Apoey pun secara perlahan tapi pasti mulai berjalan secara beriringan ditengah hutan yang gelap gulita dan hanya bermodalkan cahaya dari headlamp yang terpasang saja. Lambat laun jalan kami berdua yang awal nya sangat pelan dan lambat pun berubah menjadi jalan cepat, ternyata memang benar pada saat turun seperti ini lebih enak berjalan dengan ritme cepat karena tidak akan terasa begitu capek, berbeda dengan berjalan lambat badan seperti terasa semua. Sekiar pukul 20.00 WITA kami berdua pun akhirnya tiba di pos 1, sedangkan pos 2 sudah kami lalui sedari tadi dan tidak berhenti sama sekali disana karena kondisi nya tidak ada satu orang pun dan sangat-sangat menakutkan. Ternyata keadaan di pos 1 ini kami bertemu dengan beberapa teman rombongan yang tengah beristirahat dan berbincang-bincang ngalor ngidul, akhirnya saya dan Apoey pun memilih bergabung dengan mereka semua untuk sekedar istirahat dan makan cemilan-cemilan yang tersisa diantara mereka semua hehehe. Kurang lebih sekitar 30 menit kami habiskan untuk bersanda gurau dan menghabiskan 2 batang rokok sebagai teman. Perjalanan menuju pintu pos Senaru pun dilanjutkan kembali, kali ini saya dan Apoey akan mencoba sesuatu yang berbeda, saya mengajak salah seorang porter Gunung Rinjani yang telah habis masa bakti nya untuk berlari sampai ke pintu hutan. Dan benar saja belum apa-apa sang porter sudah berlari cukup kencang dan sangat cekatan melewati jalan yang menurun diantara rerimbunan hutan sambil membawa keranjang kayu (senjata para porter Rinjani) yang telah kosong isinya. Sebelum mulai berlari dibelakang sang porter saya pun sempatkan terlebih dahulu melihat jam berapa saat ini untuk mengukur waktu yang akan dihabiskan nantinya, ternyata pukul 21.15 WITA. Ok! Bissmilahirahmanirahim….. saya dan Apoey pun mulai berlari-lari mengejar-ngejar sang porter di depan sana, yang membuat BT semakin saya mendekat dengan sang porter maka dia pun seperti otomatis akan mempercepat  laju larinya, nampaknya sang porter tidak mau jika sampai tersusul oleh kami semua, hari diri sebagai porter yang menjadi taruhannya mungkin hehehehe….. Saya beserta yang lainnya pun seperti segerombolan kacil yang berlari di tengah hutan dimalam hari sambil sesekali loncat-loncat an untuk menghindari jalur jelek yang akan dilalui. Ternyata pintu hutan pun sudah terlihat dengan jelas nya di depan mata dan hanya menyisakan beberapa meter saja. Allhamdulillah….. refleks saya pun langsung melihat jam kembali, what ? 21.30 WITA. Berarti cuma menghabiskan 15 menit dari pos 1 menuju pos hutan Senaru ini. Kami pun segera memburu sebuah warung yang tepat berdiri di dekat pintu hutan ini, sebuah coca cola segar pun menjadi buruan utama saya. Hanya dalam hitungan detik 1 kaleng coca cola pun habis tak tersisa seolah menggantikan cairan yang habis kala dipakai marathon ala Pelawangan Senaru. Pukul 21.50 WITA akhirnya rekan-rekan lainnya yang tadi beristirahat bersama-sama di pos 1 pun tiba juga di pos hutan ini. Yang mereka lakukan pun sama persis seperti kami sebelumnya, menyerbu warung mungil di pintu pos hutan ini.
Pintu hutan Senaru ini sebenarnya merupakan tempat meeting point berikutnya yang telah ditetapkan panitia agar seluruh peserta kumpul terlebih dahulu semuanya disini, namun ada beberapa rekan yang lainnya lebih memilih untuk langsung turun kembali menuju pintu pos utama Plawangan Senaru yang terdapat kantor pengelola TNGR. Namun saya dan Apoey lebih memilih untuk mendirikan camp disini dan menunggu rekan-rekan yang lainnya, cukup sudah ke egoisan kami berdua meninggalkan mereka semua di belakang sana. Setelah istirahat dirasa cukup, saya da Apoey pun mulai mendirikan 2 buah tenda yang kami bawa, 1 tenda berkapasitas 2 orang milik saya dan 1 tenda berkapsitas 4-5 orang milik kelompok. Akhirnya saya dan Apoey pun mulai memasuki tenda berukuran 2 orang milik saya untuk segera beristirahat dan membiarkan tenda berkapasitas 4 orang di sebelah dengan keadaan kosong dengan tujuan jika mereka semua tiba disini mereka bisa langsung tidur tanpa perlu dahulu mendirikan tenda. Seperti biasa sebelum memejamkan mata, kembali MP3 tercinta pun mau tidak mau wajib menjadi pe nina bobo yang sangat begitu ampuh bagi saya OPEN FILE -> MUSRIK -> LOCAL HEROES -> SORE – SETENGAH LIMA.MP3



Gunung Rinjani, jaga tempat mu baik-baik... tunggu saya datang kembali... menyapa mu... tersenyum pada mu…

Selasa, Juni 21, 2011

Gunung Pangrango Cianjur

Gunung Pangrango *istimewa google
Setelah dalam 2 minggu berturut-turut melakukan perjalanan panjang, menginjakan kedua kaki ini di puncak Gunung Gede dan Semeru, yang berakibat pada kambuhnya cedera lama yang sudah menahun mendera tubuh, gagal dengkul. Mau tidak mau saya pun harus beristirahat secara total dan berakibat pada pemorsiran pemakaian kedua kaki ini dari olahraga-olahraga berat, termasuk naik gunung. Namun baru beberapa hari saja saya beristirahat secara total dirumah, rasa kangen yang mendera terhadap keindahan alam dan ketenangan hati sangat luar biasa menggoda tubuh ini untuk segera kembali bercumbu dengan nya. Bagaimana tidak hanya dalam hitungan 14 hari kebelakang raga ini sangat-sangat termanjakan dengan pemandangan yang didapat belum lagi ketenangan hati yang sangat luar biasa. Mulai dari mistis nya alun-alun Suryakencana, indah nya puncak Gunung Gede, romantisme nya Ranu Kumbolo, sampai gagah dan angkuh nya Mahameru yang sangat sulit untuk ditaklukan. Ternyata godaan demi godaan setelah dalam beberapa hari terakhir intens melakukan lawatan di forum Outdoor Adventure and Nature Club (OANC) Kaskus pun berbuah hasil. Akhirnya saya pun memutuskan untuk kembali melakukan sebuah perjalanan hanya tepat 1 minggu setelah saya pulang dari misi 3676 Mdpl di sisi timur pulau Jawa. Sebenarnya ada beberapa alasan mengapa saya terbilang cukup nekad untuk kali ini, selain karena tabungan untuk melakukan sebuah perjalanan masih tersedia (maklum namanya juga orang kaya hahaha) sebenarnya saya pun sudah nanggung berjanji pada salah seorang rekan Inayah Nurjulidarr Zahra untuk mengantar dia melakukan sebuah perjalanan, karenaketika saya beserta rekan-rekan yang lainnya melakukan perjalanan menuju gunung Gede dan Semeru, dia ingin sekali ikut bergabung namun apa daya karena kesibukan kuliah yang mendera dia pun harus memendam kekecewaan tidak bisa ikut bergabung. Setelah saya dan Inay sepakat untuk berangkat, kami berdua pun segera memutuskan gunung mana kali ini yang akan kami kunjungi. Setelah melalui proses negosiasi yang cukup alot, akhirnya kami pun memutuskan untuk melakukan perjalanan menuju gunung Pangrango dengan segala pertimbangan plus dan minus nya. Tanpa perlu banyak membuang waktu saya dan Inay pun segera mencari beberapa rekan yang akan ikut bergabung dalam perjalanan kali ini. Semua no.contact yang ada di handphone pun segera saya invite event kali ini, selain itu pun beberapa milist pencinta alam di situs jejaringsosial tidak lupa saya sambangi untuk menebar racun. Akhirnya beberapa hari menjelang keberangkatan saya dan Inay pun berhasil mendapatkan beberapa rekan untuk perjalanan kali ini. Inay berhasil mengajak ke 3 orang rekan nya sesama anak ITB Jody, Fajar dan Sule. Sedangkan saya sendiri berhasil meracuni 4 orang teman dari komunitas yang berbeda Ega, Gani, Gilang dan Wono. Total 9 orang yang kan bergabung dalam perjalanan kali ini menuju gunung tertinggi ke 2 di Jawa Barat, gunung Pangrango 3109 Mdpl. 

Jumat, 17 Juni 2011
2 hari sebelum keberangkatan saya beserta Inay pun sudah membuat itinerary yang langsung saya kirimkan via email pada seluruh tim yang akan berangkat. Tempat meeting point yang akan berangkat bersama-sama dari Bandung pun telah disepakati di stasiun bandung, sedangkan bagi yang berangkat dari Bogor dan Jakarta meeting point nya langsung di daerah Cibodas. Tepat pukul 17.00 WIB kami semua pun sudah berkumpul di salh satu sudut stasiun, meskipun sebenarnya sih ngaret 1 jam dari waktu yang tertera pada itinerary hehehe. Tanpa berlama-lama kami pun segera memasuki stasiun bagian dalam tanpa lupa membeli tiket Kereta Api KRD dengan tarif hanya seribu rupiah saja per orang nya. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya kereta tua bersuara mengkhawatirkan dan berpenampilan tak elok pun menampakan wujudnya dari arah timur stasiun.
Adzan Maghrib pun berkumandang dari salah satu surau ketika kaki kami menginjakan diri di salh satu sudut stasiun Padalarang, itu berarti kami menghabiskan waktu kurang lebih 1 jam lamanya di atas kereta rakyat tersebut. Dari stasiun Padalarang kami pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju pintu tol Padalarang untuk mencari bus antar kota yang akan mengantar kami menuju tempat tujuan akhir, Cibodas. Sekitar pukul 18.30 WIB kami semua pun mulai menaiki bus Doa Ibu 'yang lebih mujarab dari doa SBY' kelas Ekonomi dengan tarif Rp.15.000/orang nya. Kurang lebih 2 jam lamanya kami menghabiskan waktu diatas bus antar kota tersebut, obrolan-obrolan denagn topik yang tidak jauh dari gunung pun kami coba bicarakan agar efek jenuh selama perjalanan ini tidak begitu terasa. Sekitar pukul 20.30 WIB kami rombongan yang dari Bandung pun akhirnya tiba juga di pertigaan Cibodas, yang merupakan akses utama menuju pasar Cibodas dimana disalh satu sudut pasar tersebut berdiri dengan gagah nya kantor pengelola Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Setibanya di pertigaan Cibodas kami mencobamembeli beberapa keperluan logistik yang dirasa kurang di sebuah mini market modern yang buka 24 jam nonstop. Pada saat yang bersamaan om Gilang pun tiba di pertigaan Cibodas ini seorang diri dari tempat tinggalnya dibialngan kota Bogor. Ketika persiapan logistik dan yang lainnya dirasa cukup,kami semua pun segera menaiki sebuah angkot yang pada saat itu tengah ngetem dengan sabarnya menunggu para penumpang. Kurang lebih 20 menit kami habiskan terombang ambing diatas angkot dengan kondisi jalan yang menanjak dan sedikit bergelombang,ciri khas jalanan beraspal di Negeri ini. Setelah menyelesaikan proses administrasi dengan sang supir sebesar Rp. 5.000/orang nya, kami pun mulai menuju tempat meeting point dengan rekan-rekan yang berangkat berbeda tempat,warung Mang Idi.

Sabtu, 18 Juli 2011
Pukul 05.30 WIB kami semua sudah terbangun disalah satu sudut warung Mang Idi, tanpa komando kami semua pun segera melakukan packing ulang, shalat subuh, sarapan, serta urusan wajib dan teramat penting toilet. Pukul 07.00 WIB kami pun sudah siap untuk melakukan sebuah petualangan 2 hari kedepan menuju puncak gunung Pangrango. Setelah menyelesaikan proses administrasi di kantor TNGGP dan sedikit photo session kami pun melangkahkan kaki tanpa lupa berdoa pada yang maha kuasa Allah SWT, agar segera dilancarkan segala sesuatunya. Trek awal yang dilalui bisa dibilang cukup enak, karena kita hanya melewati anak tangga yang tertata dengan sangat rapih untuk ukuran sebuah gunung. Pukul 07.30 WIB tanpa terasa sudah sampai di pos pertama Talaga Biru, sedikit beristirahat dan kembali melakukan photo session di sebuah telaga yang sebenarnya jauh dari kata biru, keadaan danau pun nyaris tidak terurus dan kotor, bahkan warna air di dalam danau pun berwarna hijau layaknya air di sungai-sungai yang yang berada di perkotaan. Setelah istirahat dirasa cukup, perjalanan pun kami lanjutkan kembali, medan yang dilalui masih sama yakni berupa undakan anak tangga yang tersusun rapih lalu ditengah-tengah perjalanan disambung dengan menyebrangi jembatan-jembatan yang tersusun dengan sangat rapih yang terbuat dari beton lalu dilanjut kayu. Tanpa terasa sekitar pukul 08.00 WIB kami pun sudah tiba di pos berikutnya pos Panyangcang. Di pos ini pula jalur terbagi menjadi 2, jalur kiri dan menurun menuju air terjun Cibereum yang merupakan tempat rekreasi bagi masyarakat umum yang ingin sekedar melepas kepenatan sambil menikmati salah satu maha karya sang Pencipta yang sangat luar biasa indahnya. Sedangkan jalur menuju puncak gunung Gede dan Pangrango berada di jalur kanan dan menanjak. Selepas pos Panyangcang ini medan yang harus dilalui baru berbeda dengan sebelumnya, jalanan tidak lagi berbentu anak tangga tapi jalan setapak diantara pohon-pohon yang menjulang tinggi, ciri khas kawasan hutan tropis. Ternyata trek yang harus dilalui bisa dibilang cukup membosankan, karena bisa dikatakan hanya begitu-begitu saja dan nyaris landai tapi sangat memutar. Pukul 10.40 WIB akhirnya kami semua tiba juga di pos berikutnya yakni Air Panas, oh ya disini dianjurkan untuk berhati-hati karena hanya bebatuan licin yang menjadi pijakan untuk berjalan, jika sedikit saja kurang berhati-hati bersiap-siap lah kaki akan tercemplung kedalam aliran air panas yang keadaannya panas luar biasa. Disamping kanan jalur pun langsung terhubung dengan jurang yang menjadi aliran air panas, namun untung saja para pengelola TNGGP sudah memasang pagar agar yang melewati mempunyai pegangan untuk melewati jalur air panas. Selepas air panas rute yang dilalui masih sama yakni jalan setapak ditengah hutan, namun jalnnya kali ini sedikit menanjak berbeda dengan sebelumnya yang cukup landai. Ternyata perjalanan dari Air Panas menuju pos berikutnya terbilang cukup jauh. Baru sekitar pukul 13.00 WIB kami semua tiba di pos Kandang Badak, dengan nafas yang sudah tidak beraturan dan keringat yang bercucuran.Sesuai kesepakatan sebelum perjalanan, kami memang berencana akan beristirahat disini, sekedar makan siang dan melakukan shalat dzuhur. Ketika peralatan tempur hampir dikeluarkan untuk memulai proses masak memasak, ternyata ada tukang nasi uduk yang sedang berkeliaran di sekitar pos Kandang Badak. Akhirnya saya beserta rekan-rekan pun memutuskan untuk tidak memasak dan membeli nasi uduk saja untuk makan siang. Kurang lebih satu jam lamanya kami menghabiskan waktu di pos Kandang Badak ini, sekitar pukul 14.00 WIB kami semua pun sudah siap kembali untuk melanjutkan perjalanan. Oh ya hampir saja lupa, saya ingin sedikit bercerita mengapa pos ini sampai diberi nama Kandang Badak, konon menurut sejarah tempat ini merupakan tempat habitat hewan Badak dan semua hewan tersebut musnah akibat letusan besar Gunung Gede di tahun 1840 an. Selepas pos Kandang Badak ini kita bertemu dengan pertigaan yang menjadi tempat pertemuan jalur yang menuju puncak Gunung Gede (ke arah kiri) dan Gunung Pangrango (ke arah kanan). Selepas pertigaan pos Kandang Badak ini jalur yang harus dilalui menuju puncak Pangrango benar-benar menguras segalanya, karena sejak saat itu sudah tidak ada lagi yang namanya jalur landai, hampir seluruh jalur sangat curam, belum lagi ditambah dengan pohon-pohon tumbang yang menghalangi jalur pendakian. Nyaris perjalanan kali ini seperti latihan militer, menunduk dan loncat melewati pohon tumbang harus beberapa kali dilakukan, yang mengakibatkan pada terkurasnya stamina dan kambuhnya penyakit gagal dengkul :(. Namun dibalik semua beratnya medan, jalur menuju puncak Pangrango ini bisa dibilang cukup bersih keadaannya, berbeda jauh dengan jalur yang menuju puncak Gede, yang bertebaran sampah-sampah yang ditinggalkan para pendaki tak bertanggung jawab. Karena bisa dibilang jalur yang menuju Gunung Pangrango ini jarang sekali untuk didaki, menurut salah seorang petugas TNGGP yang berbincang-bincang sebelum melakukan perjalanan, jika kuota maksimum per harinya yang diizinkan mendaki Gunung Gede-Pangrango ini hanya 500 per orang nya (jalur cibodas 300 orang, gunung putri 100 orang dan salabintana 100 orang), namun yang hendak berkunjung ke puncak Pangrango dan alun-alun Mandalawangi hanya 5 sampai 10 orang saja dari kuota 500 orang tersebut, maka jangan heran dengan kondisi jalur pendakian yang cukup bersih. Menjelang puncak, pohon-pohon besar mulai berganti dengan tumbuhan-tumbuhan yang terlihat semakin rendah dan hanya ditumbuhi sejenis tanaman semak belukar yang tingginya sekitar 2-3 meter seperti tumbuhan Cantigi dan beberapa spesies tumbuhan unik dan menarik lainnya. Beberapa saat menjelang puncak jalur yang harus dilalui pun terbilang cukup enak karena sangat landai nyaris seperti trekking di dalam Mall. Allhamdulilah sekitar pukul 18.00 WIB kami semua pun akhirnya tiba dengan selamat tidak kekurangan suatu apapub di puncak Gunung Pangrango, itu berarti kami semua menghabiskan waktu kurang lebih 4 jam lamanya sejak dari pos terakhir yakni Pos Kandang Badak. Kondisi puncak Gunung Pangrango ini berbeda jauh dengan kebanyakan puncak-puncak gunung lainnya yang telah saya kunjungi, karena nyaris seluruh bagian puncak ini tertutupi pepohonan yang menjulang tinggi, hanya satu space kosong saja yang memperlihatkan puncak gunung Gede diseberang sana, namun sangat disayangkan kondisi pada saat itu langit sudah mulai menghitam dan pemandangan menuju puncak serta kawah Gunung Gede pun sudah terlihat samar-samar, belum lagi kondisi mata yang pada saat itu tidak memakai kacamata menambah halangan menyaksikan salah satu keagungan Tuhan diseberang sana.  

Namun ada sebuah ke istimewaan yang dimiliki puncak pangrango, yang tidak dimiliki puncak gunung manapun di Negeri ini. Sebenarnya hanya sebuah patok yang terbuat dari semen setinggi kurang lebih 1,5 M yang lazim dengan sebutan tiang trianggulasi, namun ada sebuah cerita besar yang terjadi dengan patok semen sederhana tersebut, di tahun 1967 seseorang besar yang pernah di lahirkan Nusantara ini Soe Hok Gie pernah berkunjung ke sini dan berfoto di atas tugu triangulasi tersebut dengan pose seperti orang yang sedang bertapa dan background teman-teman seperjuangan nya dalam hal daki mendaki gunung. Selain itu pun sedikit turun ke bawah di alun-alun Mandalawangi, dimana abu Soe Hok Gie disebar disana pada tahun 1975, karena keputusan para penguasa saat itu Gubernur Ali Sadikin yang mengeluarkan keputusan Gubernur Daerah Khusus Ibukota untuk membongkar pemakaman Kober, dimana jasad Soe Hok Gie dan ribuan yang lainnya tengah bersemayam dengan tenang nya.

Setelah photo session dirasa cukup, kami pun segera melanjutkan perjalanan menuju alun-alun Mandalawangi untuk sesegera mungkin mendirikan camp dan beristirahat. Karena badan ini memang telah terposir habis-habis an selama satu hari ini. Letak alun-alun Mandalawangi sendiri ternyata tidak begitu jauh dari puncak Pangrango, hanya tinggal mengikuti jalur turun kebawah , waktu yang ditempuh pun kurang lebih hanya sekitar 5 menit saja. Setelah menemukan sebuah space yang dirasa cukup repersentatif di tengah-tengah padang edelwise, kami semua pun segera mendirikan tenda. Ketika total 4 tenda sudah berdiri dengan gagah nya, kami pun segera membagi tugas beberapa rekan mengambil air di sumber mata air yang berada tidak jauh dari camp dan masih berada di kawasan alun-alun Mandalawangi, sedangkan saya sendiri pada saat itu lebih memilih untuk memasak. Ketika beberapa cemilan seperti pop corn selesai dimasak dan minuman hangat wedang jahe yang masih dalam proses pembuatan, tiba-tiba saja terdengar suara parau salah satu rekan Ega dari dalam tenda Eiger Lightnes nya. Sedikit meninggalkan masakan saya pun mencoba untuk keberadaan Ega di dalam tenda, ternyata pada saat itu Ega sedang menggigil kedinginan sejadi-jadi nya meskipun tubuh nya pada saat itu sudah terbalut sleeping bag. Pelajaran pertama yang saya pribadi pegang jika menemui kondisi seperti yakni jangan pernah untuk bersikap panik. Langkah pertama saya pada saat itu yakni membantu Ega untuk segera mengganti baju yang dikenakan dengan baju cadangan yang dibawa, setelah itu dengan segera mungkin saya membuntel tubuh Ega dengan blanqket almunium. Setelah dirasa cukup saya pun segera membalurkan Counterpain pada beberapa bagian tubuh yang diminta sang empunya badan. Lambat laun tubuh Ega pun muai membaik, sudah tidak menggigil parah seperti sebelumnya. Setelah kesadaran Ega sudah mulai membaik saya pun segera menyuapi secara perlahan sayur sup yang telah matang dibuat. Meskipun sayur sup yang masuk tidak terlalu banyak, tapi tidak mengapa yang terpenting tubunhnya termasuki makanan dan tidak terlalu kosong. Setelah diberi air putih saya pun segera memberikan air wedang jahe racikan manual yang terbuat dari jahe yang dipeprek/dihancurkan secara halus, dicampur dengan gula merah, sedikit kayu manis dan cengkeh. Ternyata efek minuman hangat ini bisa dibilang cukup hebat, bahkan tubuh Ega pun mulai membaik dan sudah mulai bisa duduk. Setelah sedikit menemani di dalam tenda saya pun segera keluar tenda untuk melanjutkan memasak dan memberi kesempatan Ega untuk segera beristirahat. Ternyata benar saja belum genap 5 menit saya keluar dari tenda, suara mendengkur Ega terdengar sangat nyaring, Allhamdulilah.

Setelah proses memasak dan menghabiskan nya dirasa sangat cukup, secara perlahan satu persatu tim pun meminta izin untuk memasuki tendanya masing-masing. Saya dan Gilang pada saat itu pun menjadi kontestan terakhir yang tersisa, karena saya memang meminta Gilang untuk menemani saya menghabiskan satu batang roko terakhir di malam itu sambil sedikit beres-beres alat-alat yang memang akan dimasukan di dalam tenda atau akan ditinggal diluaran saja. Setelah dirasa cukup kami pun segera menyusul rekan-rekan lainnya yang telah di dalam peraduan mimpi nya masing-masing. Namun baru saja mata ini tertutup, tiba-tiba saja terdengar suara hewan yang sedang mengendus diluar tenda, bahkan sang hewan pun mulai medekati tenda dan bergesekan dengan tenda hingga menimbulkan suara-suara gesekan yang terdengar dengan sangat-sangat jelas. Sebenarnya jujur saja saya sangat penasaran dengan sang sumber suara, namun rasanya kali ini rasa takut ternyata melebihi rasa penasaran tersebut. Tanpa banyak kompromi saya pun segera mengeluarkan MP3 player dari dalam saku jaket dan segera memasang headseat pada kedua telinga. OPEN FILE -> MUSRIK -> POPSUCK -> SUPERGRASS – ALLRIGHT.

pintu masuk Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

sebelum melakukan pendakian

Rawa Gayonggong dengan background Gunung Pangrango
istirahat di Pos Kandang Badak


Minggu, 18 Juli 2011
Padang edelweiss terlihat sangat begitu indah dengan sang bunga abadi yang sedang bermekaran, samar-samar terdengar kicauan burung nan jauh disana seolah menyambut pagi yang sangat luar biasa di alun-alun Mandalawangi ini. Belum lagi kabut yang seolah masih sangat betah untuk meyelimuti dan seakan tidak ingin kalah oleh sinar mentari yang lambat laun mulai meninggi. Diseberang sana puncak gunung Salak pun memperlihatkan keangkuhannya, seolah tidak pernah peduli jika puncak Pangrango memang lebih tinggi. Itulah suasana alun-alun Mandalawangi di pagi hari, memang tidak semegah dan sebesar alun-alun Suryakencana di gunung sebelah, tapi percayalah Mandalawangi tetap lebih menenangkan dan menyejukan hati. Jacket yang telah terpasang rangkap 2 pun seolah seperti tanpa pengaruh, seolah udara tidak ingin kalah oleh product buatan manusia. Tanpa rasa segan dan malu mereka pun mulai memasuki celah-celah jacket dan secara perlahan menjamahi tubuh.
“Lagi ngapain lo wi………..” tiba-tiba terdengar suara seseorang, berjarak kurang lebih 10 meter dari tempat saya berdiri.
Refleks saya pun menoleh kearah sumber suara , ternyata sang pemilik suara Gani sudah memperhatikan kelakuan saya semenjak keluar dari tenda. 
“Kagak….. lagi menikmati Mandalawangi di pagi hari, keren banget yak!”
“Eh yang laen nya pada kemana nih…..”
“Tuh lagi pada foto-foto di tugu triangulasi “ jawab Gani
Belum sempat saya menjawab kembali, ternyata para pasukan Power Rangers sudah tiba kembali dari ajang photo session di puncak Pangrango. Bahkan photo session pun masih berlanjut, kini mereka semua memilih alun-alun Mandalawangi sebagai lokasi pemotretan. Tentu kali ini saya pun tidak mau ketinggalan tentu nya meskipun dengan wajah kucel baru bangun tidur. Tanpa perintah saya pun segera kembali memasuki tenda untuk mengambil camera DSLR Canon 450 D hasil pinjaman dari seorang teman. Tanpa terasa berbagai gaya, sudut, lokasi dan model pun sudah memenuhi hampir setengah memory camera. Mulai dari gaya loncat-loncatan sampe mencium sang bunga abadi pun seolah menjadi gaya wajib kami semua secara bergantian. Selepas photo session dirasa cukup saya pun mencoba memisahkan diri dari rombongan. Hanya untuk sekedar menenagkan diri sambil menikmati karunia Tuhan yang sangat luar biasa indah nya ini. MP3 player mungil pun mulai dikeluarkan kembali, kali ini yang menjadi soundtrack agar suasana lebih terbawa, saya memilih lagu Beautiful Day milik band legendaris U2, Suara khas milik sang superstar Bono pun mulai sayup-sayup terdengar menemani saya yang mencoba kembali membaca sebuah puisi milik Soe Hok Gie yang beliau buat saat mengunjungi alun-alun Mandalawangi ini di tahun 1967 silam.

Mandalawangi Pangrango
Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang-jurangmu
aku datang kembali
Kedalam rimbamu, dalam sepimu dan dalam dinginmu

Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku

Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

Malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

“hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya”
Tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
Terimalah dan hadapilah

Dan diantara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara aku terima ini semua
Melampaui batas-batas hutanmu, melampaui batas-batas jurangmu
Aku cinta padamu Pangrango
Karena aku cinta pada keberanian hidup

Ketika kulirik jam yang melingkar di tangan, ternyata sudah menunjukan pukul 09.30 WIB. Saya pun kembali menuju kerumunan pasukan yang tengah masak memasak dan mengakhiri session paling menakjubkan di gunung, yakni sebuah perenungan hidup.
Sesi memasak pun saya mulai, menu yang dipilih pagi ini yakni spaghetti dengan bumbu prego keju featuring sayur sop dan puding segar sebagai makanan penutup. Tanpa terasa hampir 2 jam lamanya kami habiskan untuk session memasak ini, padahal waktu untuk menghabiskan semua makanan yang telah dibuat tidak lebih dari 15 menit saja hehehe….
Setelah dirasa cukup, kami semua pun mulai bersih-bersih dan melakukan packing untuk persiapan turun. Pukul 13.00 WIB kami semua pun telah siap untuk perjalanan pulang dan dimulai dengan melakukan doa bersama agar kami semua masih dalam perlindungan Nya dalam perjalanan turun nanti. Saat itu udara di alun-alun Mandalawangi masih terasa dingin, meskipun matahari sedang berada tepat diatas kepala. Namun udara hitam yang mulai menggelayut seolah menghalangi sinar matahari yang akan menyinari padang edelwise. Rasa takut akan turunnya hujan pun mulai memburu kami semua, bukan apa-apa jalur yang harus kami lalui terbilang cukup curam, belum lagi jika ditambah air akan mengakibatkan jalur yang dilalui semakin licin dan memperbesar resiko terpeleset. Namun siang itu nampaknya Tuhan lagi-lagi sangat baik pada kami semua, meskipun langit menghitam tetapi tidak ada satu pun tetes air yang turun dari langit. Perlahan tapi pasti, dengan sangat hati-hati akhirnya turunan demi turunan yang cukup curam pun berhasil kami lalui, meskipun dengan terpeleset kecil beberapa kali. Pukul 15.00 WIB akhirnya kami semua pun tiba di pertigaan Kandang Badak , sedari awal kami memang telah berencana untuk istirahat disini untuk sekedar mengisi perut dan melakukan shalat. Kesempatan ini pun tidak disia-siakan saya beserta rekan-rekan yang lainnya untuk menikmati kenikmatan sebatang rokok. Lambat laun asap putih yang bersumber dari mulut pun mulai menyatu dengan kabut putih yang mulai turun tanpa mengenal kompromi. Setelah istirahat dirasa cukup, keril pun mulai bertengger kembali dipunggung tanpa lupa memasang cover bag sebagai  pelindung agar keril tetap terjaga kebersihannya. Perjalanan turun memang tidak seberat ketika sedang naik, tapi tetap saja hati-hati menjadi poin yang teramat sangat penting, karena resiko tergelincir memang lebih besar pada saat turun. Pukul 16.40 WIB akhirnya kami semua telah tiba dijalur Air Panas, sedari awal sebenarnya jalur air panas inilah yang kami takutkan jika harus melewatinya pada saat matahari telah menemui peradunannya. Selain gelapnya malam, licinnya jalur pun menjadi sebuah momok yang menakutkan. Langkah demi langkah pun dilanjutkan kembali meskipun rasa suntuk, capek dan letih mulai menggelayuti tubuh. Sinar matahari pun lambat laun mulai melemah tergantikan langit yang mulai membiru kehitaman menunggu malam tiba. Headlamp pun kembali kami keluarkan untuk menerangi jalur yang harus kami lalui. Sekitar pukul 18.30 WIB kami semua pun akhirnya tiba di Pos Panyangcang, yang senja menjelang malam itu dipenuhi para pendaki lainnya yang tengah beristirahat. Kami semua pun seolah tidak ingin kalah oleh mereka semua, beristirahat pun menjadi sebuah pilihan yang sangat sulit untuk terelakkan. Beberapa bungkus Orea dan air mineral yang kami bawa dari alun-alun Mandalawangi dan sebatang terakhir stock rokok pun menjadi teman beristirahat di pos ini. Setelah istirahat dirasa cukup perjalanan turun pun dilanjutkan kembali, namun kali ini perjalanan bisa dibilang sangat-sangat lambat. Karena selain tubuh yang memang sudah sangat lelah, tiba-tiba saja penyakit gagal dengkul pun kembali mendera. Langkah demi langkah pun harus diatur sedemikian rupa agar kaki bagian kiri tidak sampai tertekuk. Karena jika sampai tertekuk sedikit saja akan menimbulkan rasa nyeri yang terasa sampai seluruh tubuh. Akhirnya pukul 20.00 WIB kami semua pun tiba juga di pintu gerbang TNGGP. Rasa haru, bangga, senang, capek, letih, nyeri pun berkecambuk dalam diri menjadi satu. Allhamdulillah…. J

Gunung Pangrango, jaga tempat mu baik-baik... tunggu saya datang kembali... menyapa mu... tersenyum pada mu…